Kapan Nikah ?

July 13, 2015

Anni, kapan nikah ?
Anni, kapan nyusul ?
Anni, pacaran udah lama gitu, kenapa ga cepetan married aja sih ?

Seiring dengan bertambahnya frekuensi pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang diajukan ke gue (at least pasti ada aja satu manusia yang mengajukan pertanyaan sejenis itu ke gue setiap harinya), gue mulai ga bisa membedakan : ini pertanyaan basa-basi atau pertanyaan karena mereka beneran perhatian atau pertanyaan meledek nih ? hahaha.

Rasa-rasanya gue pengen banget kasih jawaban : suka-suka gue, emang situ mau bayarin kalo gue tiba-tiba mau married minggu depan ?! Tapi... demi menjaga keharmonisan hubungan, gue cuma bisa maksa senyum terus bilang 'masih belum kepikiran nih', 'masih mau fokus kerja dulu', daripada gue harus kasih penjelasan panjang lebar kenapa gue yang notabene udah in relationship bertahun-tahun ini, masih belom nikah juga di saat teman-teman gue yang lain udah pada pasang status Mrs. xxx soon to be, sibuk ngurusin prewedding dan nikahan, atau yang udah mejeng-in foto-foto honeymoon, bahkan ada yang udah check-in statusnya lagi nungguin anak main di playgroup. Toh, mereka juga belum tentu akan sependapat dan ngerti penjelasan gue. Terus, masa gue harus mengulangi terus penjelasan gue setiap kali ada yang nanya lagi ? Ya walaupun pada akhirnya, dengan jawaban yang demikian, tetap aja gue diceramahin lagi sih. Harus mulai dipikirin loh dari sekarang. Ngapain kerja capek-capek, kan ntar hidup ditanggung suami, dan lain-lain-lain-sebagainya lagi. Begini deh ya siklus hidup. Masih kuliah, ditanyain kapan lulus. Udah lulus, ditanyain kapan mulai kerja. Udah kerja, ditanyain kapan nikah. Udah nikah, ditanyain kapan punya anak. Udah punya anak, ditanyain kapan punya mantu, kapan punya cucu, dst. Yowis, positive thinking nya aja deh ya, they care about me :)

Well, bagi gue, pacaran udah lama bukanlah satu-satunya alasan untuk menentukan adanya suatu pernikahan. "Marry the right person", banyak yang mengatakan demikian. Tapi menurut gue, ga cukup cuma itu. It should be "marry the right person and with the right reason". Gue percaya kok kalau sampai saat ini, gue sepertinya sudah memiliki "the right person" yang dimaksud, tapi sejujurnya, gue belum menemukan "the right reason" nya aja. Kenapa ? karena untuk saat ini, gue belum siap dan pasangan gue juga belum siap. Meskipun kata orang, cinta itu bisa mengalahkan segalanya, tapi kalau semata-mata cuma menikah karena cinta, emang bisa ?. Menurut gue pribadi sih, ga bisa. You also need to be ready and commit. Untuk ini, luckily, kami punya point of view yang sama. Komitmen seumur hidup. Mencintai seseorang hingga mati itu mudah, tapi untuk bisa berkomitmen seumur hidup menjadi seorang istri/suami, seorang ibu/ayah, mengurusi rumah tangga dan (nantinya) anak, berbagi tempat tidur dan tinggal di bawah atap yang sama, berbagi beban finansial, mengurusi semua kebutuhannya (dan anak -nantinya-) hingga tua nanti, mengurusi orangtua (mertua) dan lain-lainnya....gue rasa kami belum siap. Jadi, kalau tiba-tiba dilamar, gimana Ni ?. For now, I would probably say no, I am not ready for it. *btw, pede banget ya bakal dilamar haha*. 

Gue berharap, ketika saat itu tiba, pasangan gue udah siap dan gue sendiri juga udah siap untuk bisa memberikan jawaban dengan pasti dan yakin. Anggap saja nanti dilamarnya versi romantis pake pertanyaan "will you marry me ?". Nah, gue harap gue bisa dengan yakin untuk menjawab, "Yes, I do...because I am ready to be with you for the rest of my life and forever". Cailah, merinding ga bacanya ?. Brrr. Beneran deh. I do believe that it will be the most very super right moment if both of us are ready

Seorang teman pernah bilang kalo gue ini, not a marriage-oriented person. Okay, I should admit it. Hehehe. Gue merasa kalau gue yang saat ini, seperti seseorang yang baru mulai dewasa, masih belajar untuk menikmati dan melewati lika-liku kehidupan yang naik turun ga jelas, seseorang yang masih dalam tahap mempelajari dan memahami diri sendiri, seseorang yang memiliki (dan sedang berusaha merealisasikan) banyak impian dan cita-cita yang targetnya ingin dicapai sebelum menikah. Jadi intinya, gue masih lebih mengedepankan impian dan cita-cita gue daripada target untuk menikah. Akan tetapi, to be honest, gue anaknya mudah goyah nih, haha. Tak bisa dipungkiri, melihat banyak teman yang udah (dan akan) nikah serta banyaknya teror pertanyaan yang gue dapatkan, hati ini bisa sedih juga loh. Terkadang, akan muncul pertanyaan, kapan ya giliran gue, di kepala ini :')

Tapi setelah dipikirkan dengan tenang, gue sadar, I have my own life and my own way to live it. Why should I feel bothered with these never-ending questions and the others people's life ?. Yang terpenting saat ini bukanlah bertanya-tanya kapan giliran gue, melainkan adalah berusaha lebih ekstra lagi untuk mempersiapkan diri. Menjadikan diri ini siap. May God bless me (and us). Amin.       

You Might Also Like

2 comments

Featured Post

8 Days Trip : Macau - Shenzhen - Hongkong (Prologue)

Liburan bareng ke luar negeri yuk ! Ide yang tercetus saat lagi mumet selama peak season tahun lalu. Berawal dari sanalah, semua persiapan m...

Follow by Email